Terbitkan karyamu sekarang juga!

Breaking News

PRESS RELEASE JAKARTA INDIE MUSIC FESTIVAL (JIM-FEST)

  Sumber : Sam Alatas III

Media music dalam produksinya membutuhkan ide kreatif dalam penciptaan lirik lagu, aransemen alat music, serta kemasan dalam proses distribusinya. Ketiga hal tersebut merupakan fondasi bagi musisi untuk menghasilkan karya lagu yang bisa dinikmati secara universal oleh penikmat music. Dalam perkembangannya, fondasi music tersebut melahirkan dua aliran musisi dalam berkarya, yaitu musisi yang bernaung dibawah major label yang proses produksi dan distribusinya melibatkan perusahaan rekaman besar, sehingga mereka terikat kontrak atau lebih dikenal sebagai musisi mainstream. Dan musisi yang dalam menjalankan 3 fondasi tersebut secara mandiri alias Do It Yourself (D.I.Y.), terutama dalam proses distribusi lagu dan albumnya. Musisi tersebut dikalangan pecinta music dikenal sebagai musisi independen alias indie. Dalam perkembangannya, banyak musisi-musisi terkenal yang bernaung dibawah major label, pada awal karirnya mereka berada dijalur indie.

Banyak cara yang dilakukan oleh para musisi indie untuk eksistensi music mereka. Salah satunya adalah mempromosikan lagu dan album mereka secara online, seperti Adithia Sofyan yang memperkenalkan karya lagunya melalui situs iTunes, sebelum akhirnya produser radio Prambors mengenal lagu karya Adithia Sofyan, sehingga karya lagunya mendapatkan promosi gratis. Atau Tony Q Rastafara, sebagai pionir aliran reggae di Indonesia, yang berhasil membangun komunitas pecinta music reggae, yaitu “Manteman.” Kekuatan kreativitas dan komunitas inilah yang membuat eksistensi musisi indie tetap bertahan meskipun tidak bernaung dibawah perusahaan rekaman besar. Bahkan, ketika musisi mainstream “Teriak” menanggapi karya lagunya yang dibajak, para musisi indie justru membagikan cd lagu/album secara gratis namun dikemas dengan kreatif sehingga mereka tetap memperoleh pemasukan, yaitu dengan penjualan merchandise. Sehingga dalam istilah dunia ekonomi, musisi indie bisa dikatakan sebagai pengusaha UKM dengan potensi kemandirian finansial berbasis industry kreatif.

Kota Jakarta telah lama dikenal sebagai salah satu basis music indie di Indonesia selain Bandung dan Surabaya. Seperti kawasan Kemang, Tebet, Pasar Seni Ancol, Cilandak, dan lain-lain yang terkenal sebagai basecamp musisi indie untuk eksistensi karya mereka. Perkembangan music indie pada kawasan tersebut, menjadikan daerah tersebut memiliki keunikan dan selling point tersendiri bagi kalangan pecinta music. Selain itu, pertumbuhan music indie juga melahirkan industry atau potensi pasar yang menopang perkembangan music indie, seperti lahirnya stasiun radio independen yang khusus memutar lagu-lagu indie maupun distro-distro yang menjual produk merchandise khas Indie. Potensi kreativitas dan komunitas inilah yang mendukung perkembangan musisi indie serta menjadikan DKI Jakarta dikenal sebagai kota music indie. Berdasarkan hal tersebut, maka Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bermaksud mengadakan kegiatan yang dapat memotivasi serta memberikan ruang gerak musisi-musisi indie untuk menampilkan karya mereka dihadapan masyarakat luas melalui kegiatan Jakarta Indie Music Festival (JIM-FEST).

Jakarta Indie Music Festival (JIM-FEST) mengundang musisi-musisi indie di Indonesia, khususnya DKI Jakarta untuk berpartisipasi untuk kemudian dilakukan proses seleksi dalam menentukan peserta finalis yang berhak tampil pada konser JIM-FEST yang diselenggarakan pada tanggal 18 s.d. 19 Oktober 2014 di Taman Fatahillah. Dari 100 peserta yang mendaftar, setelah dilakukan seleksi oleh tim seleksi yang terdiri dari musisi, jurnalis music, serta pelaku indie label, maka penyelenggara sudah mengantongi 20 peserta finalis yang berhak tampil pada konser JIM-FEST pada tanggal 18 s.d. 19 Oktober 2014 di Taman Fatahillah. Selain tampil untuk membawakan lagu karya pribadi, peserta finalis juga akan memperebutkan hadiah uang tunai bernilai jutaan rupiah serta kesempatan rekaman album kompilasi 10 lagu terbaik. Lagu terbaik tersebut akan dipilih oleh tim Juri yang terdiri dari komunitas indie Indonesia, pelaku indie label, serta jurnalis music.

Untuk meramaikan acara, penyelenggara turut mengundang artis-artis indie yang telah sukses konsisten dijalur indie dalam eksistensi karya mereka, seperti Tony Q Rastafara, Gugun Blues Shelter, Matajiwa, Rojali Band, dan Tuffa. Yuk, kita ramaikan acara JIM-FEST dan saksikan para peserta finalis sebagai dukungan bagi mereka untuk terus berkarya dan memberikan warna dalam belantika music Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan Jakarta Indie Music Festival (JIM-FEST) bisa menghubungi:

Drajat (0812.9168.9802), Bety (0812.19066.631), dan Puput (0813.1234.2234)

No comments