Terbitkan karyamu sekarang juga!

Breaking News

PPN 6 Jambi, Pesta Tanpa Ingatan Penghargaan…. Akankah Dilanjutkan PPN 7?

Oleh : Viddy Ad Daery * ) salah satu pendiri PPN, diundang ke PPN 7 Singapura-akhir Agustus 2014 sebagai peserta biasa.
PPN ( Pertemuan Penyair Nusantara ) ke 6 pernah berlangsung di Jambi. PPN adalah ajang “pesta pertemuan seniman sastrawan tingkat Nusantara” yang cukup awet dan konstan, sebagai bandingan PSN ( Pertemuan Sastrawan Nusantara ) yang pertamakali diselenggarakan di Singapura pada 24 Desember 1977, kini sudah masuk usia penyelenggaraan ke 17 dan baru saja dilangsungkan di Pekanbaru, Riau daratan pada 2013.
Tak ada beda antara keduanya, hanya PSN dilangsungkan 2 tahun sekali atau bisa molor 4 tahun sekali,sedangkan PPN secara konstan diadakan tiap tahun, mungkin bisa menandingi ajang serupa di Bangkok yaitu SEA Write Awards, yang diselenggarakan tiap tahun juga, hanya saja lokasinya tetap di Bangkok sejak tahun 1979 ( jadi mungkin diilhami PSN karena PSN dimulai 1977 ), sedang PPN diselenggarakan bergiliran di beberapa Negara Asia tenggara ( Nusantara ) , seperti demikian juga PSN..
PSN, disamping ajang pesta pertemuan, juga kadang-kadang disertai pemberian penghargaan. Hanya saja tema penghargaan terserah si Negara penyelenggara, sementara SEA Write Awards justru mengambil sisi penghargaannya, jadi tidak semua sastrawan diundang, hanya yang dianggap akan mendapat penghargaan sajalah yang diundang.
PPN sampai pada penyelenggaraan ke 6 di Jambi, masih berkutat pada pesta thok, sebab tidak mau menerima usulku untuk menjadi ajang pemberian penghargaan juga, paling tidak penghargaan kepada para pendirinya.
SEJARAH PENDIRIAN “PPN”
Berbeda dengan PSN dan SEA Write Awards yang sejak didirikan tidak dirundung masalah, karena didukung pemerintah masing-masing Negara secara resmi plus sponsor swasta , maka PPN penuh berjuangan berdarah-darah, paling tidak pada awal-awal penyelenggaraannya. Berdarah-darah disini, berlaku tidak hanya di Indonesia, namun juga di Malaysia dan Brunei, meski kadar “berdarah-darah”nya tentu berbeda, hal itu karena PPN murni didirikan oleh “asosiasi” sastrawan muda beberapa Negara secara mandiri, tanpa uluran tangan pemerintah secara resmi, kecuali “person pemerintah secara swadana”.
Sejarahnya diawali dari ide penyair Afrion Medan yang ingin menyelenggarakan Medan International Poetry Gathering plus nama lain PPN secara parallel pada tahun 2007. Lalu dia meminta bantuanku untuk menghubungi sahabat-sahabatku di Negara-negara sahabat, plus kalau bisa bantuan Menteri—karena waktu itu aku sedang bekerja sebagai staf khusus seorang Menteri.
Permintaan dana bantuan tidak berhasil karena dinilai sangat mendadak, Namun undangan ke Negara sahabat, disambut sangat baik, karena pada saat itu ( tahun 2007 ) sedang terjadi “pemberontakan sastrawan muda Malaysia” –yang disokong organisasi PENA terhadap dominasi sastrawan tua yang bernaung dalam organisasi GAPENA yang sangat kuat pengaruhnya dalam semua segi kesusastraan Malaysia, bahkan Singapura dan Brunei serta Thailand selatan sampai tahun 2007 bahkan sampai beberapa tahun sesudahnya, sebelum Ketua GAPENA Prof.DR Tan Sri Ismail Hussein pensiun.
( Catatan : Setelah Tan Sri Ismail Hussein pensiun, kegiatan GAPENA meredup dan tinggal menjadi panitia penyelenggara lomba deklamasi antar kampung. Sedang kegiatan kenusantaraan diambil alih oleh PENA berpijakan awal dari PPN ini… )
Dua tahun sebelum PPN ( 2007 ), yakni tahun 2005, para sastrawan muda yang berkumpul di lembaga PENA memang mengadakan “pemberontakan” dengan mengadakan acara besar-besaran secara mandiri lepas dari pengawasan GAPENA, yaitu acara “Perhimpunan Sasterawan Muda Malaysia” di sebuah resort mewah di pantai Tanjung Piai di Pontian, Negara bagian Johor.
Semangat eksistensial dan kemandirian mereka begitu tinggi, karena itu ketika saya tawari keikutsertaan di PPN Medan mereka langsung berjanji mengirim delegasi lumayan banyak.
Demikian juga di Brunei, meski “pemberontakan” itu tidak terlalu keras, namun beberapa orang penyair yang “kurang suka bernaung” dalam LSM plat merah yaitu ASTERAWANI juga ada, dan mereka inilah yang dengan suka cita hadir dengan mengajak anak-isteri mereka, toh soal duit tidak masalah sama sekali.
Singapura juga mempunyai beberapa nama yang juga “kurang suka bernaung” dalam LSM plat merah ASAS 50. Maka merekalah yang berminat hadir, hanya saja karena satu dan lain hal, mereka batal hadir, padahal sampai detik-detik terakhir masih menyatakan berminat. Thailandpun kasusnya hampir sama.
Maka, akhirnya PPN diselenggarakan dengan semangat bonek alias “bondho nekad”. Tak ada honor, tak ada penggantian ( reimburse ) tiket pesawat. Panitia hanya memberi fasilitas losmen sederhana dan makan minum. Delegasi Brunei yang duitnya banyak, menyewa hotel sendiri.
Menjelang penutupan, panitia dag-dig-dug, karena Gubernur dan Walikota Medan tak kunjung membantu dana, padahal losmen dan catering adalah ngutang. Maka, Afrion Medan menangis kepada sahabatnya, Bupati Langkat Syamsul Arifin yang budiman. Tokoh ini nantinya terpilih menjadi Gubernur Sumatra Utara, namun sayangnya terjebak kasus yang mengakibatkan masuk penjara.
Pada malam penutupan, Syamsul Arifin membaca puisi mengenai ibunya sambil menangis, namun setelah itu berpidato, bahwa semua hutang panitia akan dilunasinya malam itu juga. Maka panitiapun sujud syukur, ketika semua hadirin bertepuk tangan.
PPN I sukses besar dengan “darah mengucur di balik baju”. PPN ke 2 diselenggarakan di Kediri, lebih berdarah-darah lagi. Bupati dan walikota tak kunjung memberi bantuan dana, dan Gudang Garam dengan tegas tak sudi membantu, meski pemiliknya mengais rezeki dari nol di bumi Kediri dan akhirnya menjadi anggota kelompok orang terkaya di dunia puluhan tahun berturut-turut sampai kini.
Panitia PPN Kediri hanya mampu menginapkan para peserta di perumahan penduduk di sebuah kampung tempat salah satu panitia, juga makanannya adalah sumbangan penduduk. Walikota yang memberi pidato sambutan akhirnya malu, karena ternyata peserta dari luar negeri juga datang betulan. Maka besoknya semua peserta diminta pindah ke sebuah asrama pelatihan milik pemda Kediri. Catering makanan juga ditanggung Walikota.
Akhirnya Bupati ikut malu, lalu memberi bantuan beberapa mobil dan minibus untuk angkutan dan menservis acara penutupan di kompleks Gunung Kelud. Namun Gudang Garam tak perduli sama sekali.
PPN selanjutnya di Kuala Lumpur, meski panitia menyediakan hotel dan honor untuk pembicara, namun untuk peserta biasa diinapkan di sebuah asrama yang untuk satu kamar diisi beramai-ramai. Demikian juga PPN di Brunei, hampir serupa.
PPN mulai membaik ketika diadakan di Palembang. Mungkin karena kesadaran berbudaya juga mulai muncul di Indonesia, maka semua peserta diinapkan di hotel berbintang dan pembicaranya mendapat honorarium dan penggantian biaya pesawat. Jambi juga mencoba lebih baik ketika menyelenggarakan PPN 6.
Hanya saja, sayangnya usulan untuk “memberi penghargaan” kepada para “tokoh dewan pendiri PPN” ditolak panitia. Bahkan, jangankan memberi penghargaan, beberapa penyair pendiri PPN juga ditolak hadir karena terlambat mengirim puisi, kecuali menyewa hotel sendiri dan makan minum sendiri. Ada juga dewan pendiri yang secara khusus sudah dipesan untuk membikin makalah dengan tema khusus, namun ternyata makalah pesanan panitia itu ditolak sendiri oleh panitia yang tidak punya konsistensi, dengan alasan, si pemesan bukan dewan kurator, tapi Cuma “Ketua Pengarah Panitia”. Jadi dewan kurator bentukan Ketua Pengarah Panitia bisa membantah Ketua Pengarah Panitia ??????????????????????????????????????????
Itulah ciri khas “Nusantara”, semua bisa terjadi…yang aneh yang ajaib adalah makanan sehari-hari…paling tidak untuk Nusantara bagian Indonesia , negara yang seakan-akan merdeka tapi sebenarnya masih dijajah cina konglomerat dajjal hitam !!!!