Terbitkan karyamu sekarang juga!

Breaking News

PERJUANGAN MEREBUT KEMBALI HAK CIPTA (KISAH NYATA ANIE DIN)

...  

Dalam gerbong kereta, hatiku memendam tangis saat melihat sosok wanita tua yang biasa aku panggil bunda. Dengan berjalan terseok menahan rasa sakit di tulang kakinya yang telah rapuh, membawa 3 koper besar berisi buku dengan berat puluhan kilo, menempuh perjalanan darat lintas negara dari Singapura ke Kuala Lumpur Malaysia. Perjalanan dengan jarak tempuh berjam-jam dan berganti-ganti transportasi mulai dari bus, kereta, bus, kereta dan entah berapa banyak jumlahnya ia tempuh dengan kesabaran yang luar biasa. Semua itu ia lakukan hanya demi membayar tanggungan uang atas perjanjian ganjil dengan sebuah penerbit buku di Malaysia.
Aku melihat ketidakadilan, aku melihat sebuah kecurangan sistematis yang dilakukan orang kepadanya, aku melihat ketidakberdayaan, aku melihat kepedihan hati yang teramat sangat hingga aku tak bisa ungkapkan betapa besar pedihnya, kepedihan itu terlihat dari binar matanya yang berusaha membendung jatuhnya air mata, melihat kegetiran yang ia sembunyikan dari hadapan anak-anaknya. Ia tutup rapat kepedihan itu di dalam hatinya hingga tak pernah aku mendengar letupan keluh dari bibirnya yang penuh kerut dzikir.

Maafkan aku bunda, aku harus membuka ini agar semua anakmu ikut merasakan perih yang engkau tanggung itu, aku tak bisa lagi memendamnya setelah melihat semua kepedihanmu. Kenyataan ini harus dikabarkan!!!

Di tengah biaya hidup di Singapura yang sangat mahal, dengan penuh perjuangan ia kumpulkan uang sedikit-demi sedikit untuk ia bayarkan setiap bulan sebagai menebus hak cipta buku karyanya. Entah sampai kapan bunda Anie Din harus bolak-balik Singapura - Kuala Lumpur dengan nyeri kakinya yang semakin parah demi melunasi perjanjian muskil itu, entah sampai kapan ia dipermainkan kecurangan dari oknum itu, entah sampai kapan perjalanan getir ini kuat ia jalani. Dalam tubuh yang rapuh aku melihat semangat jiwanya masih belum redup untuk merebut kembali hak cipta dari bukunya yang berjudul "Diaryi Bonda".

Sementara tulangnya terus merapuh dari hari ke hari dan usianya semakin sempit. Semoga sebelum dijemput sang penguasa waktu ia bisa mendapatkan kembali apa yang menjadi haknya. Mohon bantuan doa dan sebarkan tulisan ini seluas-luasnya. Semoga kisah perjuangan hidup bunda Anie Din ini juga bisa mengingatkan kita pada besarnya perjuangan hidup para bunda yang telah melahirkan kita, dan semoga oknum yang berbuat jahat pada bunda Anie Din segera mendapatkan ganjaran yang setimpal, aminnn.....

#SaveBundaAnieDin