REVIEW DIARY ANAK MAGANG - DEVA FREDEVA


Review Tapi Bukan

     7:43 PM     89 COMMENTS   

Langit tampak redup. Suhu udara juga lebih rendah dari biasanya. Tapi itu semua nggak mengurungkan niat gue yang mau pergi.

“Kemana, Neng?”
“J.co bentar. Mau baca sama ngetik.”
“Ya udah. Sekalian beliin softener, minyak goreng, kentang, sama wortel ya."
“Nggak sekalian ama pulsanya, Kakak?” Tanya gue iseng meniru Mbak-Mbak Indomerit.

Setelah pamit dan mengucapkan salam, gue pun menuju tempat yang sering gue gunakan untuk bangkitin mood tersebut. Sebenarnya rada nggak enak, sih, ninggalin Nyokap sendirian di rumah. Terlebih lagi dengan kepergian adek gue, Zidan, yang sekarang sedang tinggal di asrama sekolahnya untuk fokus persiapan Ujian Nasional nanti. Alhasil, kalau gue sedang keluar, di rumah hanya ada Nyokap. Sendirian.

Beberapa menit kemudian, gue sudah berada di tempat tujuan. Kursi pojok yang deket colokan selalu jadi sasaran. Dan, disanalah gue, duduk senderan sambil membolak-balik halaman buku Diary Anak Magang-nya AdittyaRegas. Cowok yang selalu bikin gue kecanduan kasih sayang.

Seperti yang tertulis pada judul postingan, ini bukan re-view. Gue cuma pengen cerita tentang apa yang gue rasakan ketika membacanya. Bisa dibilang curhat. Alias bodoamat-lu-mau-dengerin-apa-kagak-pokoknya-gue-mau-cerita.

Ya, sedikit maksa memang.

Buku Diary Anak Magang terdiri dari 18 Bab, dengan total halaman 278 lembar. Ceritanya macem-macem, dan sesuai judulnya, sebagian besar dari topiknya tentang suka-duka jadi anak magang, yang dilengkapi dengan potongan cerita cinta si penulis.


Penampakan bukunya~


(Tulisan yang di stabilo : Dan kamu, yang membawa aku ke masa depan :p)


Awalnya, semua baik-baik saja ketika gue menempatkan  diri sebagai pembaca biasa. Namun, semua berubah ketika gue mulai memposisikan diri sebagai pasangan si penulis itu sendiri. Membaca halaman demi halaman yang menceritakan tentang kisah Adit dengan para mantannya dulu membuat gue gondok sendiri. Kebayang nggak, sih, rasanya ngebaca tulisan orang yang sekarang lagi ngisi hati kita sedang memperjuangkan hati yang lain. Meskipun itu masanya sudah berlalu.

Padahal, jauh sebelum buku ini nyampe ke tangan gue, Adit sudah memperingatkan untuk tidak membacanya demi menjaga perasaan gue. Tapi, yah, emang dasarnya keras kepala, gue tetap meminta dia untuk mengirimkannya.

“Kamu yakin mau aku kirimin bukunya? Nanti sakit hati sendiri, loh.”
“Ih gapapa. Biasa aja kali. Dengan nerima kamu di hidup aku, itu berarti aku juga siap nerima masa lalu kamu. Hehe.”

Seandainya punya pintu kemana saja, gue bakal minta untuk kembali ke waktu itu, saat kita sedang telfonan.

NERIMA MASALALU APANYA KAMBING!

Gue masih nggak ngerti sama diri gue sendiri yang selama ini berusaha keras untuk ‘nggak mau terlalu ikut campur’ dengan masa lalu pasangan, sekarang giliran disuguhin cerita-cerita lampaunya malah nangis kejer sendiri. Mau marah, atas dasar apa? Gue sendiri yang menggali lubang di hati sendiri. Kesel iya, gondok pasti, dan tentunya, air mata udah se-gelon.

Diluar dari itu, gue akhirnya memahami sendiri, bahwa, secuek-cueknya seseorang terhadap orang yang dia sayangi, pasti akan ada masanya dia penasaran dan mengorek masa lalu pasangannya. Sekecil apapun itu.

Dan disinilah gue.
Menikmati lecet hati yang gue buat sendiri.

Review ini bersumber dari: www.bidadarimagang.com

No comments:

Post a Comment

Powered by Calendar Labs

Pages