PPN HARUS BERKEMBANG MENITI ZAMAN

PPN HARUS BERKEMBANG MENITI ZAMAN
Oleh : Viddy Ad Daery *) salah satu Pendiri PPN
Alhamdulillah, sampai saat ini, PPN ( Pertemuan Penyair Nusantara ) yang berlangsung secara periodik tiap tahun, tetap dapat berlangsung dengan dukungan para penyair dan lembaga-lembaga yang terkait di negara-negara Nusantara ( Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura dan Thailand dan negara tamu).
Untuk sekadar dicatat, Forum serupa yang lebih senior, yakni PSN ( Pertemuan Sastera Nusantara ) yang dikoordinir oleh lembaga NGO alias LSM Gapena Malaysia, kini mulai kembang kempis, karena lembaga Gapenanya sendiri yang kini meredup citranya pasca pensiunnya pemimpinnya yang legendaris, yakni Prof.DR. Tan Sri Ismail Hussein yang kini menderita usia uzur, sesuatu yang tak dapat dilawan oleh siapapun yang bernama mahluk manusia.
Padahal siapapun tahu, di zaman kepemimpinan Tan Sri Ismail Hussein, Gapena adalah lembaga yang amat disegani di seluruh penjuru nusantara. Dalam setahunnya, banyak kegiatan keNusantaraan yang diselenggarakan oleh Gapena, dan pemerintah Malaysia selalu mengucurkan dana besar untuk mendukung program-program Gapena yang memang bervisi misi “Menyatukan Kemelayuan Nusantara” sebagai inti harkat dan marwah bangsa Melayu Nusantara.
Dalam diskusi dengan saya, Viddy Ad Daery, yang berlangsung amat dekat, terbuka dan mendalam, karena saya sering disponsori oleh beliau untuk menjalani program “Residensi Seni-Budaya” di Rumah Gapena Kuala Lumpur–Tan Sri Ismail Hussein selalu menyatakan bahwa Gapena “seakan-akan membawa misi Gajah Mada dan Hang Tuah “ , yakni menyatukan Nusantara dari gempuran Kerajaan India dan China.
Dan visi misi Gajah Mada dan Hang Tuah itu sememangnya semakin mendapatkan realitas sosial-politiknya saat ini, karena gempuran “China” dan “India” terhadap Melayu Nusantara, semakin mendapatkan bentuknya di lapangan, di negara Melayu manapun, tentunya dalam bentuk-kadarnya yang berbeda-beda.
PEMBAHASAN TEMA PPN
Sampai saat berlangsungnya PPN ke 7 di Taman Warisan Melayu Singapura ini, yakni pada haribulan alias tanggal 29 sampai 31 Ogos atau Agustus 2014, kalau melihat senarai tema yang dibahas, PPN yang saat ini berlabel PPN VII , masih membahas seputar sastera Nusantara secara murni, tanpa mengaitkannya dengan masalah sosial-politik Nusantara yang justru sedang mengalami gelombang dahsyat perubahan.
Seakan-akan para penyair yang akan diberi tugas menjadi pembentang makalah, disuruh membuta-tuli, dan seakan-akan disuruh membayangkan diri berkampung di sebuah pulau indah hijau bagaikan surga, bernama Pulau Surga Sastera.
Padahal dalam realitasnya sampai kini, para sasterawan di seluruh Nusantara memposisikan dirinya untuk menjadi penyair yang “tanggap-sasmita” terhadap masalah zaman dan perubahan zaman. Bukan penyair-penyair buta tuli seperti yang diideologikan oleh kelompok TUK-KUK dan Salihara di Indonesia.
Bahkan di Indonesia sendiri, beberapa penyair akhir-akhir ini secara formal mendeklarasikan berdirinya aliran “seakan-akan baru, meskipun tidak baru sama sekali” yang bernama gerakan “Puisi Esai” , yang dikomandani sastrawan dadakan atau sastrawan “tangkap-lepas” bernama Denny JA, yang pada hakekat-galibnya menentang aliran TUK-KUK-Salihara itu, dan mencoba mengobarkan “perlawanan” bernama gerakan karya sastra “Puisi Esai” tersebut dengan mengeluarkan dana yang amat besar, yakni menembus milyaran rupiah, untuk menyukseskannya .
Acara sastra dengan gelontoran dana milyaran rupiah ? Tentu amat luar biasa menakjubkan, apalagi untuk ukuran Indonesia, dimana pemerintahnya secara hakiki masih melalaikan dunia sastera. Dari manakah sumber dana tersebut ? Tentunya hal itu juga amat layak di”puisi esai”kan nantinya.
Lalu negara Malaysia, sejak dahulu kala sampai kini, aliran sasteranya sangat basah menceburi permasalahan sosial-politik, meskipun dengan style dan gaya bahasa khas Malaysia. Bahkan “sastera kritik tajam” bukan hanya ada di saat ini, ketika situasi sosial-politik di Malaysia sudah amat longgar.
Di zaman Mahathir Mohammadpun, ketika Malaysia sedang berada di zaman emasnya “kejayaan pribumi Melayu” dan kaum China dan India masih takut dan tahu diri sebagai bangsa pendatang, tidak se”ngelunjak” sekarang, sastera kritik yang cukup kritispun sudah ada.
Di Singapurapun sasteranya juga menceburi masalah sosial-politik, meskipun tentu saja dengan si-kon sebagai bangsa minoritas yang sebenarnya dulunya adalah pribumi mayoritas yang ditipu-helah oleh pendatang-penjajah, sasterawan Melayu Singapura harus memagari diri dengan style dan gaya bahasa serta bahasan-tema yang khas.
Demikian juga di Brunei. Sasterawan-sasterawannya juga menceburi sastera sosial-politk, meski terjemahannya dalam sastera, lebih banyak berupa sastera sosial-religius, karena kehidupan masyarakat Brunei sangat religius, dan kalau menyentuh sosial-politik tentu teramat tabu kalau mengkritik Sultan dan keluarganya. Lagipula untuk apa dikritik ? Kenyataannya, Sultan Brunei Haji Hassanal Bolkiah adalah Sultan yang adil dan bijaksana dan menjaga marwah dan martabat bangsanya—terutama bangsa pribumi Melayu ( dalam pengertian yang luas—termasuk pribumi non-Muslim ).
Maka, kalau sastera Brunei banyak yang berisi puja-puji kepada Sultannya, ya tentu sangat wajar dan masuk akal, bukan karena ingin berpamrih menjilat, namun karena itu adalah sebuah ode atau nyanyian kepahlawanan, sebuah bentuk sastera puisi yang sangat umum di dunia sastera Barat.
Dan kemudian negara Thailand ( selatan ) dimana dulunya adalah Kerajaan Melayu Pattani yang merdeka—setelah memerdekakan diri dari kekuasaan Majapahit Raya—dan kemudian diserang Siam dan Inggris secara tipu muslihat, lalu kini menjadi bagian kerajaan Siam-Thailand, tentulah para sasterawannya memilih sastera sosial-politik, namun dengan bentuk ungkap yang khas pula, setara dengan sasterawan Melayu Singapura, demikian jika boleh diperbandingkan.
PENGEMBANGAN TEMA BAHASAN
Dengan melihat kenyataan-kenyataan tersebut, maka sangat sah dan wajar, jikalau PPN yang akan datang, mulai membuka diri terhadap tema-tema bahasan yang melebar ke ranah sosial dan politik kontekstual ( kiwari ) , dan tidak lagi membuta-tuli atau berlaku bagai “kuda bertopeng”, karena toh pilihan ucap sasteranya yang dipilih oleh para sasterawan peraya PPN sebagian besar memilih bentuk ucap sastera sosial-politik, bukan sastera “nonsens” atau sastera “omong kosong”—bentuk yang diideologikan oleh kaum TUK-KUK-Salihara.
Dengan melebarkan ranah pembahasan itu, maka memang jadi terbuka pula untuk menambah pembicara, tidak lagi hanya dari kalangan sasterawan, tapi juga dari budayawan, sosiolog , antropolog, sejarawan, dan kalau perlu politikus.
Dari situ nantinya, bukan hanya para sasterawan akan mendapat bahan referensi untuk menulis karya sastera yang kaya dan mendalam dengan muatan sosial-politik, namun yang terutama adalah publik Nusantara mendapat manfaat dari visi misi KeNusantaraan yang digerakkan oleh forum-forum berlevel Nusantara ( dalam lingkup antarabangsa ).
PENGHORMATAN KEPADA DEWAN PENDIRI
Lalu satu tambahan usulan, sebaiknya dibahas di PPN 7 Singapura sekarang ini, adalah program wajib mulai tahun depan, yaitu program penghormatan kepada Dewan Pendiri yang memperjuangkan eksisnya PPN ini dengan keringat darah, harta dan air mata.
Apakah bentuk penghormatan itu ? Tentu forum PPN 7 yang berhak membahasnya, namun jangan sampai “Lembaga Forum PPN” bagaikan Republik Indonesia, dimana setiap pesta-pesta kenegaraan ditayangkan di layar televisyen dengan gemuruh gegap gempita, sebagian besar pejuang yang masih hidup, hanya mampu menonton upacara-upacara tersebut di layar televisyen murah bersais kecil di rumah kecil yang sederhana.
Semacam itulah ! Semoga usulan ini bukan dianggap sebuah usulan yang mengada-ada, kerana tokoh pendiri tentu dalam hati sanubarinya mempunyai perasaan memiliki. Jangan sampai penyair atau seniman yang terkenal mempunyai “hati rembulan” berlaku dan bertindak bagai bisnisman “berhati hitam”.
CATATAN TAMBAHAN :
Blog-blog atau situs menarik yang membahas KENANGAN PPN :
-PPN MEDAN alias Medan International Poetry Gathering> http://www.esasterawan.net/eSasterawan/1_karya.asp?uid=124&ID=2240
- -PPN KEDIRI> http://brangwetan.wordpress.com/2008/06/26/pesta-penyair-nusantara-2008-di-kediri/
-PPN KUALA LUMPUR> https://serisiapsiaga.wordpress.com/2009/11/25/ppn-3-baca-puisi-di-menara-kuala-lumpur/attachment/5e-2/
-PPN BRUNEI> http://serisiapsiaga.wordpress.com/2010/06/23/pertemuan-penyair-nusantara-ke-4-di-brunei-darussalam-16-18hb-julai-2010/
-PPN PALEMBANG> http://pertemuanpenyairnusantara.blogspot.com/2011/03/sekilas-tentang-pertemuan-penyair.html
-PPN JAMBI> http://pertemuanpenyairnusantarajambi.blogspot.com/2012/09/pertemuan-penyair-nusantara-ppn-vi-jambi_7.html

No comments:

Post a Comment

Powered by Calendar Labs

Pages